Desa Sehat Mandiri

-677204057

Ini adalah sebuah kotak yang saya temukan di tetangga depan rumah seorang teman. Kotak ini diletakkan di pinggir panggar, sehingga setiap orang bisa meraih kotak ini dari jalan.

Seperti yang tertulis di kotak tersebut:
"TOGA LAYANAN MANDIRI: KOTAK RESEP OBAT TRADISIONAL",
sepertinya ini adalah kotak obat tradisional untuk masyarakat sekitar.

Menyenangkan ya jika setiap desa bisa berswadaya menjaga kesehatan setiap anggota masyarakatnya, sekaligus melestarikan resep obat tradisional seperti di sini. :)

Dusun Sonopakis Lor, Bantul, 13 Januari 2012.

Permalink | Leave a comment  »


Pantai Kuwaru

1162528498

...diam dan dengarkanlah suara ombak yang bercumbu dengan bibir pantai...
...menarilah di atas pasir hitam, bergerak meliuk menuruti angin yang menerpa tubuhmu...

Pantai Kuwaru, Sherpy, 12 Januari 2012.

Permalink | Leave a comment  »


…Kilas Balik 2011: A New Year After the Eruption…

Tahun 2011 buat saya tentu saja diawali dengan pergantian tahun, dari tahun 2010 menuju tahun 2011. Pergantian tahun kali itu, saya, entah kenapa, tidak tertarik untuk berhingar bingar. Mungkin karena pada masa itu, masih dalam masa-masa pasca (dan masih) tanggap bencana letusan Gunung Merapi. Seperti yang diketahui, bahwa pada akhir tahun 2010 daerah Jogja dan sekitarnya mengalami hiruk pikuk karena Gunung Merapi yang sedang punya “gawe” di atas sana. “Acara” nya Simbah Merapi kali ini memang cukup besar dan lama daripada beberapa kali “gawe” yang pernah ada sebelumnya. Tercatat, korban meninggal mencapai angka 100 orang. Bahkan, Mbah Marijan yang menjadi juru kunci pun akhirnya menyelesaikan abdi terakhirnya pada letusan kali ini.

Pasca letusan mereda, kesiagaan berikutnya disiapkan untuk menghadapi arus banjir lahar dingin. Besarnya gawe simbah merapi ini menghasilkan luapan material yang memang luar biasa. Bahkan sungai yang tadinya lebar dan cukup berjarak kedalamannya dari tebing sungai, berubah menjadi sebuah dataran material vulkanik. Saya sempat ikut wora wiri ikut-ikut membantu distribusi bantuan untuk para korban letusan dan korban lahar dingin bersama dengan beberapa komunitas. Ada komunitas dari temen-temen online (twitter, blogger, dan lainnya). Juga  dengan temen-temen dari Gelanggang UGM yang akhirnya saya bergabung ketika banjir lahar dingin menyerbu kawasan Code.

Beberapa hari menjelang pergantian tahun menuju 2011, saya belum memutuskan mau ke mana buat tahun baruan. Takutnya nanti udah terlanjur janji tahun baruan sama yang lain, tiba-tiba saya beride mau ke mana dan jadi harus batalin janji. Ya ya ya, saya memang tipe yang suka mendadak spontan impulsif gitu, ditambah lagi suka berubah-ubah pikiran, dan bingungan. :D

Semakin deket ganti hari, semakin bingung mau ngapain. Ada dua ajakan yang menarik. Naik gunung Lawu tanggal 1 paginya, atau tahun baru di sebuah dusun Stabelan di 3km dari puncak merapi bareng temen-temen dari Tlatah Bocah. Berbekal kenekadan pribadi dan keyakinan yang semena-mena, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat naik ke Stabelan tanggal 31 siang, dan berencana turun setelah tengah malam pergantian jam ke 2011, lanjut besok paginya naik ke gunug Lawu. Persiapan bawaan di carrier udah disiapin buat naik Lawu juga. Hahaha. Gak mau rugi pokoknya. Saya naik motor berdua dengan temen saya, menempuh jarak Jogja-Muntilan-Stabelan. Selama perjalanan saya milih buat ada di depan, yang bawa motornya. Dan temen saya yang notabene cowok ini, namanya Niam, berpasrah diri duduk di boncengan.

 

...para pemuda mendirikan layar tancep...

Perjalanan menuju Stabelan adalah luar biasa. Menemukan jejak-jejak sisa kejadian letusan Merapi yang sangat menonjol. Tumpukan abu yang tebalnya menutupi persawahan, menebalkan jalanan yang naik turun, dan menyelimuti daun-daun. Benar-benar masih kentara bagaimana besarnya kekuatan simbah Merapi. Sampai di dusun Stabelan sudah cukup gelap. Saya dan Niam sebenarnya enggak tau di mana tepatnya acara ini diselenggarakan. Kita berdua cuman berbekal kepedean berlebih, cari-cari keramaian. Hihihi… Akhirnya sampailah kami di rumah bapak dukuh. Acara belum dimulai, pun kami adalah tamu pertama dari luar kota sepertinya, beberapa menit sebelum rombongan mobil dan motor mulai berdatangan dari Jogja, Magelang, dan kota-kota sekitarnya yang lain. Persiapan dimulai dengan mendirikan layar tancep, untuk nonton filem dokumenter masa-masa rescue ketika Gunung Merapi meletus.

Selain acara senang-senang, ada juga seremoni yang isinya adalah doa-doa yang dipimpin oleh seorang yang dipercaya sebagai tetua di dusun tersebut,  disertai potong ingkung ayam dengan nasi jagung. Sang pemimpin doa menyalakan api dalam batok yang isinya berbau seperti kemenyan, kemudian lampu dimatikan. Dalam terang api kecil dari batok itulah, sang pemimpin doa menggumamkan doa-doa yang intinya memohon keselamatan pada sang empunya alam, terutama berkaitan dengan ‘gawe’ sang simbah Merapi. Setelah mantra doa selesai dirapalkan, dipotonglah ingkung yang sangat besar dan pembagian nasi jagung kepada hadirin yang ada di tempat tersebut.

Seremoni lainnya adalah sebuah tarian yang dipersembahkan pada Gunung Merapi, bercerita tentang kejadian-kejadian di gunung. Dengan penerangan obor, penari-penari menggeliatkan tubuhnya mengitari sebuah gundukan tanah yang sudah dibentuk sedemikian rupa menyerupai gunung. Para tamu dan penduduk sekitar dipersilahkan ikut menari di akhir tarian tersebut. Dinginnya malam, dekatnya gunung, nyala obor, membuat tarian ini tampak mistis bagi saya, sekaligus sangat menarik hati untuk ikut meliukkan tubuh. Sayangnya, saya cukup malu saat itu untuk ikut bergabung menari.

Tarian kepada Gunung

Hehehe…Acara malam itu menyenangkan sekali bagi saya. Melihat penduduk berjubelan datang dan berkumpul bersama, menikmati kesenian tarian diiringi gamelan dari bapak-bapak yang bahkan sudah sepuh beberapa diantaranya, juga menonton layar tancep. Seru, ih.

Selesai seluruh rangkaian acara, tamu yang akan menginap dipersilahkan untuk “klekaran” sesuka hati di rumah pak dukuh yang sekaligus jadi pos dan venue acara. Tapi ada juga api unggun yang sudah disiapkan bagi mereka yang ingin menghangatkan tubuh, juga sambil bercengkerama dalam dinginnya gunung. Suasana kehangatan nampak sekali. Saya sempat berkenalan dengan beberapa teman baru yang ternyata juga datang dari Jogja. Ditemani teh hangat dan cemilan kami mengobrol hingga tengah malam, semakin merapat pada api unggun yang menjadi satu-satunya sumber panas malam itu.

Dan….lupa sudah rencana saya untuk turun ke kota dan kembali ke jogja, supaya besok paginya bisa ikut naik ke Gunung Lawu dengan beberapa temen dari komunitas Cahandong. Ketika teringat pun, akhirnya saya memutuskan untuk bertahan hingga pagi hari. Karena kondisi medan perjalanan yang kayaknya akan sangat menyeramkan untuk melintasinya malam-malam begitu dengan naik motor. Salah-salah malah tersesat nanti.

...hasil jalan-jalan pagi...

Pagi hari, sebelum terang, sebelum subuh, beberapa orang termasuk saya dan Niam memutuskan untuk mulai naik ke area ladang yang berada di atas desa, dengan jalan semakin memuncak, mendekati Merapi. Melihat-lihat kondisi ladang dan jalur yang tampak berantakan terkena abu merapi. Mencoba melihat puncak merapi yang masih tertutupi awan. Dan, tentu saja mengambil foto-foto yang menarik di sana. Ah, dalam kondisi begitu, kamu akan merasakan betapa kecilnya manusia ini, dibandingkan alam semesta yang ada di seluruh jagad raya ini. Betapa manusia benar-benar harus hidup berdampingan dengan alam. Juga, betapa besar kekuasaan pemilik dunia ini.

Maka, inilah, sebuah tahun baru penuh makna bagi saya. Juga sebuah petualangan yang menyenangkan, bersama Niam dan beberapa teman baru yang saya temui di sana. Terima kasih Stabelan, terima kasih Tlatah Bocah. Tahun baru kali ini, menuju 2012, entah saya akan ada di mana. :)

…Tahun Baru Stabelan…New year stabelan

Eh, gimana sama Lawu? Saya belum jadi naik ke sana. Hingga detik ini. Semoga tahun depan saya bisa ke sana. Hahahaha.


…#CeritaKita: Kamu dan Aku…

Satu momen pertemuan kita kembali di persimpangan jalan itu membangkitkan semua kenangan dan rasa yang diam-diam tersembunyi jauh di dalam. Satu momen pertemuan yang hanya beberapa detik kita berkesempatan saling menatap, tersenyum, dan berbicara kata-kata. Satu momen pertemuan yang berjarak oleh meter jalanan dan roda dua di antaranya.

Kamu…dan aku. Kita berdua adalah sebuah ikatan peristiwa yang tak diharapkan akan terjadi. Kita saling bicara melalui sebuah waktu yang tak terduga akan ada. Kita adalah sebuah percakapan yang terjalin dari kalimat awalan yang mendadak harus muncul.

 **

Pagi beberapa bulan yang lalu. Saat itu,  kita berdua menyusuri jalanan sehabis sarapan di warung soto langganan kita. Entah mau ke mana kita akan menuju dengan perut yang sudah terisi cukup itu. Seperti biasa, kamu duduk di belakang setir, dan aku berada di sampingmu. Ya, kamu adalah tipe lelaki yang selalu tidak pernah mau diusik tentang kejantanannya untuk menyetir mobil ketika bersama perempuan. Bagimu, memegang setir adalah salah satu syarat ‘lelaki’ menjadi ‘lelaki’ di hadapan perempuan. Dan aku selalu tertawa kecil untuk itu.

Tangan kita saling menggenggam erat. Sesekali kita saling menatap dengan senyuman dan sendu. Mungkin saat itu sebenarnya mulai muncul pertanyaan-pertanyaan di benak kita: beginikah? Apakah kita memang sebaiknya tidak bertemu lagi? Apakah sebaiknya memang percakapan harus disudahi sekarang juga? Apakah kedaan akan membaik? Apakah akan semakin buruk?

Atau, jangan-jangan saat itu kita sudah merasa bahwa memang ini adalah sebuah momen perjalanan terakhir kita.

Sepanjang jalan, kita berbicara tentang aku dan kamu. Kamu berbicara padaku, bahwa kamu menemukan dirimu yang menjadi sedikit berperasaan manusia lagi. Bersamaku, kamu merasa bahwa ternyata kamu tak benar-benar telah berubah menjadi monster sepenuhnya. Seperti apa yang kamu katakan sebelumnya, bahwa kamu tak lagi memilih untuk berperasaan. Kamu menjalani hidup dengan bekerja dan bersenang-senang. Dengan kedua hal itu, kamu tak lagi memberi kesempatan untuk dirimu merasakan sakit ataupun sedih. Dan kini, kamu bisa merasakan hatimu lagi.

Kita terus saling menggenggam hangat. Aku tersenyum mendengarkanmu. Lalu, aku ganti berbicara padamu, bagaimana semua ini tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku bercerita mengenai keadaan yang tak lagi berpihak padaku, bagaimana aku merasa berada di sisi yang bersalah bagi semuanya yang melihat percakapan kita. Bagaimana aku berharap keadaan akan membaik untuk semuanya. Bagaimana aku menyayangi dan selalu ingin menjaga sosok seseorang di masa lalumu. Dan kataku berujung pada kebingunganku sendiri. Entahlah. Aku terdiam. Namun hatiku terus berbicara, mengungkapkan segala pengakuan bahwa aku telah menjadi lebih baik ketika bersamamu. Bagiku, kebersamaan kita membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik untuk diri kita sendiri, dan terhadap satu sama lain.

Kendaraan kita membelok di jalan kecil menuju tempatmu tinggal. Kali ini kamu tak  mengarahkannya menuju halaman, namun berhenti di depannya. Tanganmu mempererat genggamannya. Sebuah pelukan erat dan tak ingin terlepas menyusul kemudian. Sepintas, aku seperti melihat matamu yang berkaca-kaca, juga raut wajahmu yang surut dalam luka dan duka. Namun kamu berhasil dengan gesit menyembunyikannya, menggantinya dengan tawa dan canda. Seperti biasa, kamu mengalihkan semua duniamu dalam rasa ‘senang’.

Aku mengambil alih kemudi mobil. Kulambaikan tanganmu meninggalkanmu, seolah hari akan berjalan biasa, dan kita akan bertemu lagi malam nanti atau esok hari. Namun tidak, kita tak pernah lagi bertemu setelahnya. Yang kuingat hanyalah pelukan hangat itu sebagai penanda terakhir dari pertemuan kita.

 ——–

Aku, adalah seorang kurir yang bertugas mengantarkan barang dan menyampaikan pesan kpadamu. Sebuah pesan telah tertulis untukmu kala itu, dan harus segera disampaikan. Di kala itu, aku juga adalah seorang kepercayaan yang bertugas untuk menjaga dan melindungimu dari segala perih yang mungkin akan melandamu. Aku bertugas menjadi temanmu. Aku bagi diriku sendiri saat itu adalah seorang perempuan yang sedang berusaha keras melindungi hatiku dari segala cemas dan badai peristiwa yang menimpaku. Aku adalah perempuan yang berdiri kokoh untuk menyembunyikan rapuhnya diriku saat itu. Dan aku adalah perempuan yang tetap tertawa dan menjalankan tugasku sebagai kurir dengan pasti, tanpa harus membicarakan keluh dan kesahku. Aku bertemu kembali denganmu, dengan segala pesan dan benda yang kubawa untukmu, di saat aku sedang berpayah-payah melindungi diriku sendiri, menyimpan ceritaku untuk kudengarkan sendiri. Dan kamu, mengetahui kepayahanku tanpa aku bercerita padamu. Kamu seperti menjelma menjadi kakak lelaki pelindung yang selalu kuimpikan sejak kecil. Namun makna kehadiranmu bagiku kemudian terus berkembang.

Kamu, adalah seorang lelaki yang kepadamu harus kuserahkan kembali beberapa benda milikmu dari seseorang di masa lalumu. Kamu adalah seseorang yang aku ditugaskan untuk menjadi teman bercakapmu, supaya kamu merasa lebih baik. Padahal mungkin kamu sendiri merasa baik-baik saja. Kamu di kala itu, sedang menikmati kehidupanmu yang kau ciptakan setelah momen peristiwa masa lalumu yang meruntuhkanmu dengannya. Kamu bangkit, dengan segala baik dan burukmu. Masa lalumu yang mengantarkanku ke hadapanmu. Kamu kala itu, terus saja tertawa dan mengajarkanku untuk ikut tertawa juga di antara rasa pedih yang diam-diam sedang menyelubungiku. Menertawakan hidup dan menghidupkan hidup dengan segala cara pandang penuh semangat tawa. Bagiku kala itu, kamu adalah kakak lelakiku seperti peranmu yang selama ini sebelumnya ada. Dan bagimu kala itu, aku adalah seorang adik yang harus kamu jaga. Namun, makna kehadiranku bagimu pun kemudian terus berkembang.

 **

Kita adalah percakapan.

Percakapan yang terjalin dari masa lalumu dan masa kiniku.

Percakapan yang membangkitkan segala rasa dan usaha untuk menjadi lebih baik.

Percakapan yang harus dibatasi untuk menjaga tempat kita berdiri agar tak terlewat batas.

Percakapan yang harus diakhiri dengan apapun perasaan yang tercipta dan tumbuh di dalamnya.

…..tersenyum menangis ketika bercakap tentangmu, masih saja…..

Sherpy, 02.12.11


…a letter for you, Mami…

Sebenarnya tidak terlalu ingin menuliskannya di sini.
Tapi, biarlah…semoga kalian bisa memahami perasaan ini. :)

 

 
“Aku tidak menangis ketika roda mobilku berhenti di parkiran rumah sakit.
Aku tidak menangis ketika kakiku berlari menembus lorong rumah sakit tak sabar menemuimu.
Aku tidak menangis ketika langkahku memasuki ruang kamarmu, dan melihat tubuhmu sudah tertutupi selimut hingga kepala.
 
Aku hanya menangis kebingungan, ketika sebuah telepon di subuh hari, dari seorang sahabat, mengabarkan kepergianmu.
Aku hanya menangis dalam sujud subuhku, sebelum aku menemuimu, segera.
Aku sedikit menangis ketika roda mobilku menyusuri jalanan setelah subuh menuju rumah sakit.
Aku sedikit menangis di sebuah perempatan jalan menuju rumah sebentar, sembari menunggu lampu menjadi hijau.
Aku menahan tangisku yang sedikit keluar, ketika melihat jenazahmu disemayamkan di tanah kubur.
 
Dan selebihnya,
Aku tersenyum.
Aku tersenyum kepadamu yang tak lagi bisa melihatku.
Aku tersenyum berusaha menenangkan kerabatmu, Mi, yang terisak menangisi kepergianmu.
Aku tersenyum memandanmu yang dimandikan di atas batangan-batangan pisang.
Aku tersenyum melihat jasadmu tertutupi batik.
Aku tersenyum membelai nisan kayumu di pemakaman.
Aku tersenyum, ikhlas, melepas Mami, dan gak mau perjalanan Mami jadi berat, dengan tangisanku.
Aku tersenyum, karena Mami gak akan menahan sakit lagi.
 
Sore ini, aku tidur sebentar, Mi.
 
Dan sore ini,,
aku menangis hebat.
semua gambar tentang mu bermunculan, Mi.
Dari mulai awal aku mulai mengenalmu, di kantin, dengan semua keriwilan Mami,
dengan semua wejangan Mami, gojegan Mami, saru ne Mami, es tomat Mami,
Mami yang baru selesai solat di mushola, mami yang lagi tiduran di bangku panjang kantin,
Mami yang gak pernah mau kalo kami-kami ini bayar jajanan kami.
…Piye to Mi…wong dodolan kok ra gelem dibayar kie lhooo..
 
Sampe Mami sakit, tapi masih bisa jualan di kantin,
Mami tambah sakit, dan cuman bisa di rumah.
 
Sore ini aku nangis sesenggukan,
Semua penyesalan tiba-tiba mendesak keluar, Mi.
Hari itu, aku malah gak sempet bersujud di kakimu, Mi,
Malam terakhir aku masih bisa ada di deket Mami,
aku malah gak pernah meluk Mami sekalipun.
 
Kalo tau malam itu, malem terakhir aku bisa sama Mami, aku pasti bakal meluk Mami.
Aku pasti berusaha ngajak Mami cerita-cerita sing bisa bikin Mami seneng,
meskipun mungkin Mami terlalu kesakitan buat senyum atau ketawa.
Aku pasti bakal nemenin Mami di ruang IGD.
Paling nggak, buat terakhir kali memandangimu lama, tersenyum, membelaimu,  atau memijitmu.
Aku pasti berlama-lama, dan mencium keningmu, tidak hanya sekedar mencium tanganmu ketika pamit pulang.
 
Kalo tau secepet itu Mami akan pergi,
aku pasti bakal ajak semua anak-anak Mami yang di Jogja, buat dateng nemenin Mami.
Aku pasti lebih sering dateng ke rumah Mami, nemenin Mami,
ngabisin waktu sama Mami.
 
Maafin aku Mi, yg selalu gak bisa ngomong banyak di telepon,
kalo Mami tiba-tiba nelpon aku karna kesepian sendirian di rumah, gak bisa kemana-mana.
Maafin aku ya Mi, yang malah gak dateng ke rumah, nemenin Mami, ketika Mami ngerasa kesepian.
Maafin aku Mi, yg mungkin masih belum bisa menuhin omongan-omongan Mami,
yang bahkan mungkin aku udah lupa apa aja yg terlewatkan buat dipenuhin.
 
 
Aku bahagia melihat Mami bisa ketawa,
dan sedikit seneng-seneng di hari peringatan ulang tahun perkawinan Mami sama Babe.
Aku bersyukur, bisa liat Mami yg hari itu sangat cantik,
terharu dikelilingi anak-anaknya yang merayakanmu dan Babe, ‘nikah lagi’.
Dan aku ikhlas, bersyukur, Mami udah gak kesakitan lagi sekarang.
 
Istirahat yang damai ya Mami,
aku cuman bisa menjalankan tugasku sebagai anak Mami,
semoga aku cukup bisa jadi anak sholeh,
supaya bisa doain Mami dengan baik,
supaya amalan pahala buat Mami insyaallah bisa terus mengalir.
 
Istirahat yang damai Mi,,
karena kami semua selalu menyayangimu,
dalam hati kami yang paling dalam.
Love you, Mi…
 
terima kasih buat semua yang pernah Mami berikan buat kami,
bekal hidup lewat wejangan, omelan, riwilan,….
pelajaran hidup tentang ketabahan, kesabaran, keikhlasan….
 
 
Innalillahi wa innailaihi rajiuun,….
Allahumma figrlaha warhamha wa’afiha wangfunganha…
Allahumma latahrimna ajroha, walataftinna ba’daha, waghfirlana, wallaha…
 
12 Agustus 2011.
Satu hari sebelum 7 hari peringatan kepergianmu.
Love you, always…
Anakmu, Mi.
Sita.”
 
Sekarang, kami semua, mencoba terus tersenyum,
tentangmu. 
 

…subuh ke sepuluh, Mi….

Suara adzan subuh.

Sama seperti waktu itu. Ketika suara dering telepon memecah hening subuh.

Mengabarkan kembalinya dirimu pada sang Rahmatullah.

Dan ini, adalah subuh kesepuluh semenjak kepergianmu, Mi.

Istirahat yang tenang ya, Mi…. :)

“Mungkin kami akan terbiasa dengan ketiadaanmu, 
tapi percayalah, kami akan selalu tersenyum mengingatmu…
Dan ingatan tentangmu, selalu ada di hati kami…. :)
Love,…” ~~ “For Mami”, Me, 2011.


…66 tahun Negeriku…

 

66 TAHUN NEGERI INI,

Hai para pemuda,

apa yang telah kita lakukan,

selain teriakan di jalanan yang menguraikan tuntutan-tuntunan pada negara…

Apa yang telah secara nyata kita sumbangsihkan untuk NEGERI INDONESIA tercinta?

 

Ah, ya, ada mereka yang tak ikut berteriak di jalanan,

tak ikut membawa poster penuh huruf-huruf kemarahan…

 

Ada mereka yang berakrab ria dengan pedalaman, dengan pinggiran negeri,

berbagi ilmu dengan anak negeri yang lainnya…

 

Ada juga mereka yang berasyik ria di depan laptop canggihnya,

merancang segala aksi penuh tulus hati dengan media berteknologi,

kemudian melangkah keluar bersama kawannya, mewujudkan rancangannya.

 

Ada juga mereka yang berkarya,

memperkenalkan diri sebagai anak negeri yang berprestasi,

kepada dunia.

 

Ah, semakin banyak pemuda yang beraksi, bergerak, bersatu,

membangun negeri.

Lalu, kamu sendiri?

 

*a little repost in first paragraph.. :)

** foto diambil dari sini… :)


…"Gouverneurs Kantoor"…

Dsc08061
Sebuah sejarah terbaca dari sebuah gedung tua yang tampak gagah berdiri ini.

Sungguhkah?

Coba tengoklah ke dalam, cari tau apa yang hendak ia ceritakan.

Senyumlah padanya, sapalah ia, supaya ia bercerita lebih banyak lagi padamu. 

Pedulikah kita? :)


*Museum Sejarah Jakarta ~ Museum Fatahillah ~

Taken at Museum Day Fest, 

18 Mei 2010.

Permalink | Leave a comment  »


..Yeay, my new blog!!…

My New Blog...!! ^^

Hureeeeyy! My new blog was born!

Akhirnya cita-cita untuk punya blog baru, terwujud sudah. ^^

Dari dulu memang pengen banget bikin blog baru,

so…this is it!

Mari mampiiir… :D


..Yeay, my new blog!!…

Hureeeeyy! My new blog was born! Akhirnya cita-cita untuk punya blog baru, terwujud sudah. ^^ Dari dulu memang pengen banget bikin blog baru, so…this is it! Mari mampiiir…